Rabu, 11 Mei 2011

Organisasi full in LOVE


-->
“Permisi! Permisi! Permisi!” Lari maraton plus senyum terpaksa mengiringinya di sepanjang koridor.

Dia tidak peduli orang yang melihatnya dengan aneh. Rapat lebih penting dari apapun untuk saat ini. Pandangannya menuju setiap ruangan yang ada di sebelah kanan dimana ruang B.301 berada. 
“Ok. Langsung saja saya perkenalkan ketua Robotika in Bali kita Faical Adiatma dari angkatan 2006.” Kata ketua Himpunan Jurusan penuh wibawa. 
Suara tepukan tangan memenuhi ruangan seiring kedatangan sosok cewek dengan tampang  kelelahan dan tersipu malu yang berdiri di depan pintu. 
“Maaf saya telat.” Sesal cewek itu. 
“Mari masuk. Baru aja mulai kok.” Senyum manis menghiasi wajah ketua himpunan. 
“Makasih.” Ucapnya sambil menuju bangku yang masih kosong. 
“Owh iya maaf memotong sedikit. Sebelumnya saya juga ingin memperkenalkan sekertaris acara robotika in Bali. Syabila Larasati angkatan 2007. Ical nanti Syabila ini yang akan mendampingimu dari sekarang sampai acara selesai.” Kata ketua himpunan lagi. 
Senyum sapa Syabila mengakhiri perkenalanya. Ical tanpa bosa – basi langsung memaparkan panjang lebar apa aja yang akan dibahas dalam rapat. Setengah jam cuap – cuap Ical selesai. Hasil ending rapat ngebuat Syabila sangat kaget. Kompetisi robotika in Bali akan mengundang beberapa turis asing. Turisnya sih ok, sapa tau aja ada yang cakep tapi ngomong sama bulenya yang buat Syabila mati kutu. Bahasa Inggrisnya blukutuk - blukutuk, malah bisa dikata nggak bisa bahasa inggris. 
“Saya rasa cukup sekian rapatnya. Besok kita lanjutkan lagi. Ical, Syabila, saya harap kalian akan jadi partner kerja yang kompak. Perkenalanya lebih lanjut bisa kalian lakukan di luar forum ini. Selamat sore tetep semangat dan saya sebagai ketua HM berterima kasih untuk kehadiran kalian semua.” 
Satu persatu keluar ruangan. Di luar tamapak hampir gelap. Bukan karena hari sudah malam tetapi karena awan mendung yang menyelimuti langit. 
“Hai. Syabila ya?” 
“Eh. Iya.” Jawab cewek yang punya body kecil, pendek, rambut lurus item, menghentikan jalannya. 
“Semangat ya partner ku.” Ucapan Ical hanya dibales dengan senyuman Syabila . 
“Wah mau hujan. Pulang ma sapa?” Ucap Ical lagi. 
“Emm angkot ka Ical.” 
“Ya udah yuk bareng aja.” 
“Nggak deh. Makasih. Lagian jam segini masih ada angkot kok.” 
“Emang mau nunggu sampe kapan?? Sampe ujan?” Ical tersenyum. 
Syabila berpikir sebentar. Satu anggukan mengakhiri percakapan mereka. Di depan gerbang Syabila menunggu Ical yang sedang mengambil motor. Syabila bukan asli orang Jakarta. Tatakrama  dan medoknya yang dia punya nunjukin kalo dia jawa banget. 
“Makasih ya ka. Maaf udah ngerepotin.” Bosa – basi Syabila setelah sampai kosnya. 
“Santae ja. Balik dulu ya.” 
"Iya. Hati – hati di jalan." 
Suara motor metik Ical terdengar semakin jauh. Syabila langsung masuk kos. Hari ini salah satu hari terberat dalam hidupnya. Rasa capek and malu bercampur jadi satu kalo inget kejadian waktu rapat. Syabila menjatuhkan diri di kasur. Pikirannya melayang kesana sini. Lima belas menit kemudian akhirnya Syabila tertidur. 
*******
Dua minggu ini Syabila melewati rutinitas yang sama, pulang kuliah, rapat dan berselingkan dengan mengerjakan tugas plus latihan bahasa inggris dan tujuh hari dalam seminggu waktunya dia habisin bareng Ical. Kegiatan yang mau nggak mau kudu syabila jalani untuk sebulan ini hingga akhir lomba robotika. 
Kini mental Syabila kudu disiapain buat ngadepin bule – bule sebelum tiga jam lagi dia tiba di hotel Bali untuk menjadi sekertaris robotika in Bali. 
“Aduuuhh maaamaa  Syabila gugup.” Clotehnya sampai di kamar hotel.
“Udah ka dibuat santai aja. Kan ada ka Ical.” Goda Ayu juniornya yang jadi panitia robotika juga. 
Syabila bersiap untuk memulai acara lomba. Hatinya mulai semakin dag dig dug ketika terdengar ketukan pintu. Dari celah badan Ayu yang membukakan pintu, Syabila melihat Ical yang tersenyum manis dengan pakaian rapi. 
“Udah siap??” Tanya Ical melihat kearah Syabila. 
“Ciee romantisnya dijemput nih sekertaris.” Ayu memainkan alisnya ke hadapan Ical. 
Ical mencolek Ayu sebagai respon. Kemudian mereka semua pergi menuju tempat dimana robotika akan dimulai. Sebelum acara dimulai breefing dilakukan terlebih dahulu agar semua berjalan lancar. Setengah jam kemudian acara dimulai. Tiap menit pengunjung berdatangan mengikuti dan menyaksikan lomba sampai suasana begitu rame. Syabila terlihat seperti buntut Ical, kemana Ical pergi dia selalu di belakangnya menemani Ical kecuali ke kamar mandi dan tidur. Setengah hari lomba berlangsung dan sekerang pukul tiga sore lomba selesai untuk hari pertama. 
“Sebulum evaluasi kita lunch dulu ya. Setelah itu evaluasi. Ayo silahkan mencicipi hidangannya.” Kata Ical sebagai ketua panitia lomba. 
“Syabila boleh minta tolong ambilin nasi sama lauknya?” Ical tersenyum manis. 
“Mau lauk apa ka?” tanya Syabila yang menyiapkan makan buat Ical.
“Cie sekertaris organisasi plus pribadi.” Celetuk Adi salah satu panitia. 
Syabila tersipu malu sedangkan Ical malah balik godain Adi yang lagi dekat sama Sari salah satu panitia robotika juga. 
“Wah kalo gitu gue juga mau dong ambilin Syabila.” Kata Faris Pengawas lomba dan temen sekelas Ical. 
“Wah ka Faris gak mau kalah. Iiihhiirr. Laris manis ka Syabila nih. Kayaknya banyak yang kena cupid nih. Organisasi full in love kalo gini.” Celoteh Ayu yang membuat semua panitia tertawa. 
Sanda gurau ketika makan berubah menjadi serius dengan adanya evaluasi. Hari pertama ini terasa berat bagi semua panitia. Persiapan lebih matang untuk menghadapi hari ke dua esok. Begitu seterusanya, breefing, lomba dan evaluasi. 
“Ahh ga kerasa ya tinggal dua hari lagi kita di Bali.” Kata Faris ketika bertemu Syabila di taman hotel. 
“Iya ka. Rasanya cepet banget nggak kerasa. Kapan ya bisa ke Bali lagi.” Gumam Syabila. 
“Kalau kamu mau jadi istri ku.” 
Sesaat suasana hening lalu Syabila tertawa geli dan Faris ikut tertawa juga. Terdengar suara tawa selain mereka. Ternyata tawa Ical yang berdiri di belakang mereka. 
“Hai cal. Udah rapi. Kan masih satu jam acaranya dimulai.” 
“Biar jangan gugup aja Ris. Sya tolong pakaiin dasi dong.” Ical mendekati Syabila. 
Syabila berusaha memakaikan dasi Ical tapi hasilnya tak berbentuk. Udah lama Syabila nggak pernah memakaikan dasi papahnya semenjak dia kos. 
“Mau gue bantu?” Tawar Faris. 
“Gak deh. Gue coba sendiri dulu sapa tau gue inget lagi cara pakai dasi.” Ical membenarkan dasinya sendiri. 
“Sya ganti baju gih habis ini saya mau kasih laporan kemarin. Saya tunggu di sini ya.” Ucap Ical. 
Syabila pergi menuju kamar bersiap layaknya seorang sekertaris lomba. Lima belas menit Syabila bersiap lalu kembali lagi ke taman. Terlihat hanya Ical sendirian yang sedang duduk di gazebo. 
“Perfect!!” Seru Ical melihat penampilan Syabila. 
“Ini kan hari terakhir lomba jadi Syabila pengin buat yang wah.” 
“Bagus. Owiya Sya bisa rapiin dasi saya. Barang kali ada yang belum rapi. Nggak mau kalah dong sama sekre.” 
Syabila merapikan dasi dan kemeja Ical. Selang dari dua menit itu, Faris datang ke taman ternyata Ical dan Syabila sudah menuju aula. Seperti biasa, jam tiga lomba selesai lalu di akhiri penutupan sebagai akhir dari lomba robotika kali ini. Acara berjalan sukses walau ada beberapa kendala tetapi untung saja bisa diatasi. Hari terakhir jadi hari terberat acara lomba. Semua panitia terasa kelelahan. Walau lelah, semua panitia robotika nggak mau ngelewatin malam terakhirnya di bali. Rombongan berjalan menyelusuri jalan dan menuju kute menikmati indahnya malam. Di kute hawa terasa dingin membuat rombongan kembali ke hotel. Di keramaian rombongan panitia yang sedang becanda menuju hotel, tiba – tiba tangan Syabila di tarik dari keluar rombongan. 
“Sssstttt.” Suara orang yang menarik Syabila sambil menempelkan jari dibibirnya. 
Syabila berlari mengikuti orang yang memegang tangannya sekarang. Tampang Syabila terlihat kelelahan. 
“Cape ka. A aada apa.. ya.. ka??” Syabila ngos – ngosan. 
“Temenin saya nonton sunset ya.” Kata Ical memelas. 
“Hah? Sunset? Kakak nggak kedinginan emangnya??” Lugu Syabila. 
“Sekali seumur hidup gapapa kan?” 
Syabila tersenyum. Ical tidak melepaskan tangan Syabila dari genggamannya sampai di kute. Canda Ical menampik sedikit hawa dingin yang menyerang mereka. Namun rasa kantuk nggak bisa Syabila tahan. Lagi seru bercerita, Ical melihat Syabila yang tekluk – tekluk menahan ngantuk. Ical tertawa, membuat Syabila malu. 
“Ahh ka Ical jangan diketawain.” 
“Habis lucu ekspresinya. Ya udah sini tidur di bahu kakak. Dari pada nggak enak gitu posisinya.” 
“Hah? Syabila nggak ngantu kok. Kan mau liat sunset” 
“Udah sini tidur. Nanti kakak banguni kalo sunset muncul.” Ical menarik kepala Syabila ke bahunya. 
Akhirnya Syabila tertidur di bahu Ical. Ical tersenyum melihat ekpresi polos seorang Syabila yang takberdaya. Hawa ngantuk pun menyerang Ical. Takut ketiduran, alarm Ical set jam lima pagi. Dan pas banget dugaan Ical sunset muncul sesuai dengan waktu bunyi alarmnya. Ternyata gak cuman mereka, banyak orang yang tidak mau melewatkan sunset di kute dari yang anak kecil sampai yang tua. Syabila terbangun karena tepukan tangan Ical di pundaknya. Mereka menikmati indahnya sunset untuk beberapa jam. Sampai di hotel keduanya mengendap – endap takut ketahuan panitia robotika. 
Kini semua sudah di dalam bus. Hampir semua panitia merasa sedih meninggalkan pulau Dewata itu. Rasanya ingin tinggal lebih lama. Apalagi buat Sari dan Adi yang ternyata semalem baru jadian, Bali merupakan salah satu tempat terindah. 
“Ka Sya. Semalem lo kemana? Hayoo tidur dimana?” Goda Ayu. 
“Dii.. haacciimm! Ciim!!”Hacim Syabila membuat dia bebas dari pertanyaan Ayu.
“Wah Ka Sya flu. Ayu ambilin obat ya. Tunggu bentar.” Ayu mengambil obat di tasnya. 
“Yu ada obat demam sama flu gak?” Tanya Faris menghampiri Ayu. 
“Ada. Sapa yang sakit?” 
“Noh si Ical.” 
“Kak Ical demam? Flu? Wah sehati emang soulmate satu sakit, ikutan sakit juga.” Celetuk Ayu. 
“Kak Ical sakit?? Pasti gara – gara semalem. Moga semalem kita gak ketahuan Ya Allah.” Batin Syabila. 
“Syabila sakit?” Tanya Faris ke Syabila. 
“Ehh gak kok cuman bersin – bersin Kak.” 
“Bersin – bersin apanya si flu?” Ayu tertawa. 
Beberapa hari perjalanan akhirnya sampai juga di Jakarta. Hanya beberapa hari setelah selesai lomba robotika, Ical sms dan menghampiri Syabila. Sudah lima hari nggak ada berbau Ical di sekitar Syabila. Sekalinya liat, Ical lagi sama cewek dan itu nggak hanya sekali bersama cewek itu. Rada nyesek di hati Syabila.
“Kak Faris. Tumben ke sini?” Syabila heran liat Faris ada di kelasnya. 
“Iya nih pengen aja. Kok liatin ke sana mulu?” 
“Owh iya kebeneran aja liat ke sana.” Syabila meringis. 
“Ical ya? Mereka udah pacaran satu tahun.” 
“Ooowwh.” Hati Syabila rada nyesek. 
Rasanya Syabila ingin berlari ke toilet lalu menangis sepuasnya. Tapi keberadaan Faris buat dia mati gaya dan terpaksa menahan air mata. Bukan sepenuhnya salah Ical, mungkin Syabila juga yang ngersa kePDan Ical ada rasa ke si doi. 
“Niih. Keluarin aja sepuasnya biar nggak nyesek.” Kata Faris mengeluarkan tissue. 
Tanpa sadar air mata Syabila sudah menetes di pipi sebelum Faris memberinya tissue dan ternyata Faris menunggu Ayu. Mereka mulai dekat sehabis acara robotika. Sedangkan Sari dan Adi korban organisasi full in love paling sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar